• Witanty ibunda Adhyastha Faiz Amanta (18 bulan) “Adhyastha kalau minta sesuatu dan tidak dituruti suka ngamuk.”

• Dian Sulistiana, ibunda M. Rayyan Sugiyanto (3,5) “Kalau diajak ke suatu tempat dan tidak sesuai keinginannya, dia nangis minta pulang, padahal kami lagi ada keperluan di tempat tersebut. Ngamuk-nya pakai nangis teriak-teriak dan guling-guling.”

• Dwi Yunita Kurniawati, ibunda Nareswari Tabina Darmansyah (3,2) “Kalau minta sesuatu yang enggak dituruti, nangis-nya bisa sampai setengah jam. Dia membanting yang ada di depannya plus pukulin Mama or Abi-nya sambil kakinya ngosek-ngosek di lantai.”

• Rifa Mifta, ayahanda Fairuz Irham (3,9) “Kalau minta apa-apa dibilang sabar dulu ya tapi tidak mau, terus nangis, teriak-teriak lari ke jalan sambil gulung-gulung.”

Saran Pakar:

“Langkah awal yang harus dilakukan orangtua adalah mencari tahu penyebab kerewelan anak. Misal: karena sakit, kecapekan, atau lapar. Selanjutnya, tugas orangtua adalah memfasilitasi dahulu kebutuhan anak agar tidak rewel. Umumnya, anak akan tantrum ketika kebutuhannya tidak terpenuhi. Penyebab lainnya, bisa jadi karena orangtua terbiasa memenuhi keinginan anak ketika berperilaku buruk.

Ketika anak meminta sesuatu dan menangis barulah keinginan itu dipenuhi, sehingga anak belajar bahwa untuk mendapatkan keinginannya harus menangis dan berteriak terlebih dahulu. Mengatasinya, orangtua agar mengubah terlebih dahulu kebiasaan tersebut. Biarkan anak menangis, marah-marah atau uring-uringan sebagai penyaluran emosinya.

Setelah itu, minta anak untuk diam. Sampaikan pula bahwa walaupun ia menangis, keinginannya tidak serta merta dipenuhi. Selanjutnya, biarkan hingga anak tenang dan berikan permintaan yang diinginkan. Dengan demikian, anak mengetahui bahwa permintaannya dipenuhi bukan karena tangisannya.

Anak juga akan menangis jika datang ke suatu tempat yang tidak menyenangkan dirinya. Ia menangis karena tidak tahu, bagaimana berkegiatan sendiri ketika ibunya beraktivitas. Mama perlu membawa sesuatu yang membuat anak merasa nyaman, seperti: mainan atau buku keterampilan menggambar, dan lainnya. Dengan demikian, anak akan merasa nyaman karena dapat melakukan sesuatu. Jadi, anak perlu difasilitasi.”

Untuk anak yang akan mengikuti tes IELTS sebaiknya perlu diberikan persiapan tambahan di tempat kursus persiapan IELTS terbaik Jakarta. Sehingga tidak ragu dan dapat menyelesaikan semua soal dengan mudah.