Terdeteksi Di Usia 3 Tahun

ausbildungaupair.com – “Saya tidak menyangka Okta menderita leukemia. Awalnya, ketika masih bayi, tidak ada yang aneh dalam perkembangannya. Semuanya normal seperti anak-anak lainnya. Hanya saja, memasuki usia 3 tahun, ada yang berbeda pada tubuhnya. Okta tampak pucat. Tubuhnya kurus dan perutnya buncit. Saya khawatir akan kondisi kesehatannya. Akhirnya saya mengajaknya konsultasi ke dokter spesialis anak, ternyata dokter menyarankan untuk melakukan pemeriksaan darah lengkap dan USG.

Hasilnya, Okta dinyatakan menderita hiperleukositosis, sel darah putihnya lebih dominan dibandingkan sel darah merah. Untuk pengobatan yang lebih intensif, dokter menyarankan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Pertimbangannya, peralatan di RSCM lebih memadai. Jadilah kami berangkat pada Maret tahun lalu ke Jakarta.

Pengobatan untuk Okta berupa kemoterapi sebanyak sekali seminggu selama 6 bulan, tidak boleh terputus, harus berkesinambungan. Bila tidak, harus mengulang dari awal. Alhasil, kami akhirnya memutuskan tinggal di Jakarta. Hanya kami berdua, saya dan Okta kos di sekitar Salemba agar lebih mudah menjangkau RSCM.”

Emosi Tidak Stabil

“Saya bersyukur, saat ini kondisi Okta semakin membaik. Paket pertama kemoterapi sudah selesai, selama 8 bulan seminggu sekali, sekarang jadwalnya 5 minggu sekali. Memang sudah terlihat ada banyak kemajuan, tapi pengaruh obat-obatan yang digunakan membuat Okta tidak nafsu makan. Obat-obatan itu membuat perutnya menjadi kembung dan kenyang sehingga memengaruhi nafsu makannya.

Untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya, saya berusaha memerhatikan makanan yang dikonsumsi. Salah satunya, menghindari makanan berpengawet dan menggunakan penyedap masakan. Penting juga memerhatikan bahan makanan yang dikonsumsi. Utamanya yang meningkatkan daya tahan tubuh, seperti buah naga dan bit, ikan bawal putih dan gabus, ayam kampung, dan lain-lain. Padahal, bahan-bahan tersebut tergolong mahal di Jakarta.

Berbeda dengan di Jambi, bahan makanan bisa diperoleh dengan harga murah dan banyak tersedia. Tidak hanya terhadap ­ sik, kemoterapi juga berpengaruh terhadap psikisnya. Emosinya menjadi tidak stabil. Terkadang tiba-tiba Okta menjadi sangat pemarah. Ini barusan habis mencakar tangan saya karena dia tidak sabar menunggu antrean.”

Antrean Panjang & Lama

“Pengobatan di rumah sakit menghabiskan banyak waktu. Untuk melakukan kemoterapi, saya harus datang pagi-pagi sekali karena antreannya cukup panjang. Bayangkan saja, saya datang jam 9 pagi untuk melakukan pendaftaran, dapat nomor urut 64. Sampai dengan siang sekitar jam 12-an yang dipanggil baru nomor belasan, berarti saya bisa sampai magrib.

Nah, bayangkan bila anak-anak harus menunggu dari jam 9-an pagi sampai magrib. Wajar bila waktu menunggu yang lama membuat anak-anak bete. Demikian pula dengan Okta. Saya merasa sangat beruntung karena bersama Okta bisa menunggu di Family Room. Anak-anak bisa bermain dengan beragam mainan sekaligus bisa beristirahat. Demikian pula dengan orangtua yang mendampingi.

Ke depannya, saya berharap prosedur untuk pengobatan anak-anak dengan penderita kanker dapat dibuat lebih sederhana sehingga tidak perlu menunggu terlalu lama. Bila perlu, pihak rumah sakit menyediakan ruang tunggu yang nyaman untuk anak-anak, membuat anak-anak senang untuk berangkat berobat ke rumah sakit.”